Total Tayangan Halaman

Kamis, 23 Mei 2013

AKHIR KEHIDUPAN YANG BERLAWANAN




Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orang tuaku dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa’ ibuku saat kepulanganku dari keluyuran dan bergadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam shalatnya yang panjang. Aku heran kenapa Ayah shalat begitu lama, apalagi saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran. Bahkan hingga aku berkata pada diriku sendiri “ Alangkah sabarnya mereka… setiap hari begitu…. benar-benar mengherankan!”
Aku belum tau bahwa disitulah kebahagiaan seorang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan… Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh menjadi pemuda yang matang. Tetapi aku semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kudengar dan kuterima dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban  sebagai orang terasing. Di sana aku tak mendengar lagi suara bacaan Al Qur’an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku di tugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirin…banyak waktu luang… pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh… tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir setiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang terkena musibah. Sampai suatu hari terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak bisa kulupakan.
Ketika kami dengan seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan. Kami asyik ngobrol… tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang sangat keras. Kami mengalihkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju kejadian untuk menolong korban.
Kejadian yang sungguh tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi sangat kritis keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat-cepat menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat.
“Ucapkanlah ‘La Ilaha Illallah… La Ilaha Illallah…” perintah temanku. Tetapi sungguh mengherankan, dari mulutnya malah muncul lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku nampaknya sudah terbiasa menghadapi orang yang sekarat… Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan tatapan nanar. Seumur hidupku belum pernah menyaksikan orang yang sekarat, apalagi dengan kondisi yang seperti itu. Temanku terus saja menuntun keduanya mengulang-ulang kalimat syahadat. Tetapi keduanya tetap saja melantunkan lagu.
Taka ada gunanya…
Suara lagunya semakin melemah… lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua. Taka ada gerak… keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatah kata pun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan dan hening.
Kesunyian pecah ketika temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su’ul khotimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata “ Manusia  akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari tanda apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.“ Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa ini memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu aku shalat khusu sekali.
Tetapi perlahan-lahan aku mulai  melupakan peristiwa itu.
Aku kembali pada kebiasaanku yang semula… Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang menimpa dua orang yang tak ku kenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memangbenar-benar  menjadi benci kepda yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sediakala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang yang pernah aku dengar dari dua orang yang sekarat dahulu.
Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu… Sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku.
Seseorang mengendarai mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah terowongan menuju kota. Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk mengambil ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menubruknya dari arah  belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang kawan –bukan yang menemaniku ketika peristiwa pertama- cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih muda, dari tampangnya, ia kelihatan seseorang yang taat agama. Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumankan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an … dengan suara yang lemah.
“Subhanallah!” Dalam kondisi kritis seperti itu, ia masih sempat melantunkan ayat-ayat suci  Al-Quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi itu, ia melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan suara merdu.
Selam hidup belum pernah aku mendengar suara bacaan Al-Qur’an seindah itu. Dalam batin aku berguman sendirian, “Aku akan menuntun membaca syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu… apalagi aku sudah punya pengalaman,” aku meyakinkan diriku.
Aku dan kawanku seperti kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur’an yang merdu itu. Sekoyong-koyong tubuhku merinding menjalar dan menyusup ke setiap rongga. Tiba-tiba suara itu berhenti. Aku menoleh kebelakang. Kusaksikan ia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang  tangannya, detak jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut di ketahui  kawanku. Ku kabarkan pada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis, air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betu-betul sangat mengharukan.
 Sampai di rumah sakit….
Kepada orang-orang di sana aku mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata. Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya segera menghampiri jenajah dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secra pasti kapan jenajah akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenajah, semua ingin ikut menshalatinya.
Salah satu petugas rumah sakit menghubungi keluarga almarhum. Kami ikut mengantarkan jenajah sampai ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan saat itu sebenarnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari Senin. Di sana almarhum  juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin. Ketika terjadi kecelakaan, mobinya penuh dengan beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk di bagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen untuk di bagi-bagikan kepada anak -anak kecil.
Bila ada yang menanyakan kejenuhan dalam perjalanan, ia menjawab dengan halus. “Justru saya memanfaatkan waktu perjalananku dengan menghafal Al-Qur’an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang ku ayunkan.”
Aku ikut menshalati jenazah dan mengantarkannya sampai ke kuburan. Dalam liang lahat yang sempit, Dia dikebumikan. Wajahnya di hadapkan ke kiblat.
“ Dengan nama Allah dan atas agama Rasulullah.”
Pelan-pelan, kami menimbunnya dengan tanah… Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu, sesungguhnya dia akan di tanya…
Dia menghadapi hari pertamanya dari hari-hari akhirat… dan aku… sungguh seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia. Aku benar-benar bertaubat dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul khotimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai taman-taman syurga. Amin…




Sumber: Saudariku Apa Yang Menghalangimu untuk berhijab? Syaikh Abdul Hamid al-Bilaly.1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar