Total Tayangan Halaman

Kamis, 23 Mei 2013

Kisah Dr. Zaki Usman





Pada bulan Februari 1953. Di sebuah desa bernama Razaiqan, pusat Armanat, yang masuk Qana, seorang bayi yang tidak normal dilahirkan. Dia adalah anak seorang yang sangat sederhana . Dia mempunyai empat orang anak laki-laki dan tiga saudara perempuan. Ketika usia anak ini mencapai dua setengah tahun, dia diserang deman yang sangat tinggi dan membuatnya menjadi lumpuh serta hilang penglihatannya.
Keluarganya tidak pernah berhenti untuk mengobatannya. Para dokter sering mengunjunginya. Namun, mereka menvonis bahwa penyakitnya tidak mungkin terobati. Dia sudah tidak mungkin disembuhkan.
Keluarga sangat sedih mendengar vonis tersebut. Akan tetapi, mereka tidak kehilangan harapan. Ada beberapa usulan untuk menangani anak ini. Ada yang mengusulkan untuk memasukkannya ke panti asuhan. Akan tetapi, orang tuanya menolak. Mereka memasukannya anak ini ke kuttab [Lembaga Pendidikan Al-Qur’an]. Selang satu tahun, keluarga ini pindah ke Kairo karena sang ayah di pindah tugaskan. Mereka tinggal di pusat kota. Mereka mengundang seorang guru dari kerabat sendiri untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak ini. Hanya dalam waktu dekat, anak ini telah hafal Al-Quran dan pahan makna-maknanya.
Dia kemudian tidak meneruskan sekolah. Akan tetapi hanya belajar di bawah pantauan para kerabat. Dia seakan di kurung di rumah. Sampai usianya mencaoai enam tahun, dia tidak pernah mengenyam bangku sekolah ataupun lembaga pendidikan lain. Di waktu-waktu ini, dia memperdalam belajar Al-Qur’an dan memantafkan hafalannya. Radio menjadi sahabat yang selalu menemaninya setiap saat. Sebab, dia dikurung di rumah orang tuamya. Dari radio inilah, dia belajar persoalan-persoalan kebudayaan, politik, ekonomi dan pendidikan.
Apakah anak ini mempunyai impian? Seorang anak buta dan lumpuh, apa yang menjadi impiannya?
Dengan radio, dia sering mengikuti acara rutin “Al-Ayyam” Al-Ayyam sendiri adalah judul karya otobiografi Thaha Husain [penerj]. Dari sini, kemudian ia ingin menjadi seperti Thaha Husain. Kemudian ada orang yang membacakan untuk kisah-kisah Thaha huasin. Di antara impiannya adalah menjadi orator, imam dan penceramah. Dari radio, ia belajar bahasa inggris dan berhasil menguasainya. Dia sering mendengarkn siaran dari propa. Dia kemudian ingin menjdi terkenal dan mempunyai kedudukan penting di antara banyak orang.
Ketika usianya masih lima tahun,dia sering di halaman rumahnya membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring. Dia juga berpidato kepada orang-orang. Dia melakukan ini setiap hari. Dia benar-benar seperti orator, imam dan penceramah. Orang-orang seringkali berkumpul mengelilinginya. Diantara mereka ada yang takjub dengan suara dan kepribadiannya yang kuat. Namun, sebagian mereka ada menilainya sebagai anak yang sudah gila. Akan tetapi anak ini tetap bahagia, terutama ketika membaca Al-Quran dan memberikan nasihat kepada orang-orang untuk selalu beriman kepada Allah.
Perjalanan intelektualnya dimulai ketika usianya mencapai enam tahun. Dia langsung masuk kelas satu I’dadi [kelas persiapan] di Ma’had Ustman Mahir. Dia tidak masuk usia tingkat dasar karena sudah hafal Al-Qur’an. Seperti biasanya, sebagian keluarganya ada yang mengusulkan untuk memasukannya di lembaga keterampilan khusus orang –orang difabel untuk belajar permadani. Ada juga yang mengusulkan akan membiarkannya di rumah. Bahkan, ada yang mengusulkan agar dia dibiarkan sampai mati, karena tidak ada gunanya dia hidup. Kematian adalah jalan utama bagi orang buta dan lumpuh.
Akan tetapi, dia tetap meneruskan sekolah dan membantu orang tuanya. Pemuda ini lulus dengan hasil yang luar biasa. Kemudian dia meneruskan ke Ma’had Al-Qohirah Ats-Tsanawi [SMA Kairo]. Di sekolah ini, dia membutuhkan waktu empat tahun. Ketika pergi ke sekolah, dia harus merangkak di atas tanah, baik pada musin kemarau ataupun penghujan. Ketika hujan turun, dia harus merangkak dengan belepotan lumur.Pemuda yang gigih ini biasanya melakukan dengan dua cara:
Cara pertama: ada seorang yang mengangkatnya dari tanah pada saat musim penghujan dan membawanya walaupun tangannya sudah belepotan dengan lumpur. Kemudian orang tersebut menyerahkannya kepada kernet ataupun sopir agar memerhatikannya.
Cara Kedua:  Hal ini terjadi ketika dia keluar dari Al-Azhar. Ketika itu, dia adalah pelajar sekolah menengah atas di sana. Ketika itu, banyak kawannya ada di sekililingnya, tiba-tiba ada seorang pelajar putri yang membantunya dengan mencegatkan taksi. Pada hari berikutnya,  pelajar putri tersebut menunggunya untuk bisa memberikan bantuan apa yang diperlukan Zaki Usman. Gadis ini banyak bertanya tentang diri Usman yang membuatnya sangat kasihan. Dia menawarkan mengajarinya membaca dengan cara Braile atau dia yang akan membacakannya dan membantunya. Akan tetapi, Usman tidak mau menjadi beban orang lain.
Di sekolah menengah atas, dia tidak lulus. Ini adalah pukulan berat baginya. Dia menerimanya dengan tersenyum. Sebenarnya dia lulus, tetapi tersandung oleh kondisinya yang difabel. Setelah lulus, dia melanjutkan ke Fakultas Bahasa dan terjemah. Akan tetapi setelah berfikir orientasinya berubah. Kemudian  dia meneruskan ke Fakultas Ushuludin.
Dia kemudian lulus dengan mendapatkan dua gelar Lc (Licence) sekaligus dari fakultas Ushuludin. Bayangkan! Mendapatkan Lc dan kebudayaan Islam tahun 1979  dalam bidang  tafsir pada tahun 1983. Kemudian dia bekerja di kementrian wakaf  selama tujuh tahun yaitu dari tahun 1980 sampai dengan tahun 1987.
Tidak hanya itu, dia berhasil mendapatkan gelar magister tahun 1986 dengan nilai sangat memuaskan. Judul tesisnya adalah Manhaj al-Islam fi at-Tanmiyah al-Iqtishadiyyah [Manhaj Islam dalam Pengembangan Ekonomi]. Setelah itu, dia bekerja sebagai asisten dosen di Fakultas Dakwah. Dia kemudian melanjutkan program doctoral [S-3] dan menyelesaikannya pada tahun 1995 dengan disertasi Ad-Da’wah al-Islamiyyah fi al-Qur’an as-Sadisal hijri  [Dakwah Islam pada Abad keenam Hijriyah] dengan nilai sangat memuaskan [cumlaude].
Di samping sebagai pembicara di acara-acara radio, karier akademinya juga meningkat. Dia pernah menjabat sebagai ketua Jurusan Kebudayaan dan tafsir. Ada sekitar dua puluh empat judul buku, di antaranya:
1.       Manhaj al Islam fi Tahqiq al-Amn [Metode Islam dalam Mewujudkan Perdamaian]
2.       Asbab al-Irhab wa Madlahir Ilajih [ Sebab-sebab terorisme dan Solusinya]
3.       Dzawa al-Ihtiyajat al-Khashah wa Mauqif al-Islamminhum [Orang-orang yang mempunyai kebutuhan khusus dan sikap Islam kepada mereka]
Dr Zaki Usman juga berkeluarga . Kehidupan keluarganya juga sangat bahagia. Istrinya selalu membantunya dan selalu menemaninya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Cinta keduanya mengalahkan cinta rata-rata orang biasa. Sebab , cinta mereka didasarkan atas cinta karena Allah STW dan persahabatan yang kuat.
Seorang anak yang buta dan lumpuh mampu membangkitkan kekuatannya. Dia mampu menciptakan masa depannya sendiri. Dia selalu berkata kepada orang lain, “ Tinggalkan kekacauan pikiran Anda. Mulailah kehidupan Anda sekarang juga. Jika anda benar-benar hidup, maka perbaharuilah  terus hidup Anda. Jika sedih, maka ingatlah Allah selalu bersama Anda. Teruslah melangkah maju dengan tekat dan kemauan yang kuat.”

Sumber: 12 Formula Dahsyat Merancang Masa Depan Hebat, DR Ibrahim Elfiki.2009

Tidak ada komentar:

Posting Komentar