
Pada bulan
Februari 1953. Di sebuah desa bernama Razaiqan, pusat Armanat, yang masuk Qana,
seorang bayi yang tidak normal dilahirkan. Dia adalah anak seorang yang sangat
sederhana . Dia mempunyai empat orang anak laki-laki dan tiga saudara
perempuan. Ketika usia anak ini mencapai dua setengah tahun, dia diserang deman
yang sangat tinggi dan membuatnya menjadi lumpuh serta hilang penglihatannya.
Keluarganya
tidak pernah berhenti untuk mengobatannya. Para dokter sering mengunjunginya.
Namun, mereka menvonis bahwa penyakitnya tidak mungkin terobati. Dia sudah
tidak mungkin disembuhkan.
Keluarga sangat
sedih mendengar vonis tersebut. Akan tetapi, mereka tidak kehilangan harapan.
Ada beberapa usulan untuk menangani anak ini. Ada yang mengusulkan untuk
memasukkannya ke panti asuhan. Akan tetapi, orang tuanya menolak. Mereka
memasukannya anak ini ke kuttab [Lembaga Pendidikan Al-Qur’an]. Selang
satu tahun, keluarga ini pindah ke Kairo karena sang ayah di pindah tugaskan.
Mereka tinggal di pusat kota. Mereka mengundang seorang guru dari kerabat
sendiri untuk mengajarkan Al-Quran kepada anak ini. Hanya dalam waktu dekat,
anak ini telah hafal Al-Quran dan pahan makna-maknanya.
Dia kemudian
tidak meneruskan sekolah. Akan tetapi hanya belajar di bawah pantauan para
kerabat. Dia seakan di kurung di rumah. Sampai usianya mencaoai enam tahun, dia
tidak pernah mengenyam bangku sekolah ataupun lembaga pendidikan lain. Di
waktu-waktu ini, dia memperdalam belajar Al-Qur’an dan memantafkan hafalannya.
Radio menjadi sahabat yang selalu menemaninya setiap saat. Sebab, dia dikurung
di rumah orang tuamya. Dari radio inilah, dia belajar persoalan-persoalan
kebudayaan, politik, ekonomi dan pendidikan.
Apakah anak ini
mempunyai impian? Seorang anak buta dan lumpuh, apa yang menjadi impiannya?
Dengan radio,
dia sering mengikuti acara rutin “Al-Ayyam” Al-Ayyam sendiri adalah judul karya
otobiografi Thaha Husain [penerj]. Dari sini, kemudian ia ingin menjadi seperti
Thaha Husain. Kemudian ada orang yang membacakan untuk kisah-kisah Thaha
huasin. Di antara impiannya adalah menjadi orator, imam dan penceramah. Dari radio,
ia belajar bahasa inggris dan berhasil menguasainya. Dia sering mendengarkn
siaran dari propa. Dia kemudian ingin menjdi terkenal dan mempunyai kedudukan
penting di antara banyak orang.
Ketika usianya
masih lima tahun,dia sering di halaman rumahnya membaca Al-Qur’an dengan suara
nyaring. Dia juga berpidato kepada orang-orang. Dia melakukan ini setiap hari.
Dia benar-benar seperti orator, imam dan penceramah. Orang-orang seringkali
berkumpul mengelilinginya. Diantara mereka ada yang takjub dengan suara dan
kepribadiannya yang kuat. Namun, sebagian mereka ada menilainya sebagai anak
yang sudah gila. Akan tetapi anak ini tetap bahagia, terutama ketika membaca
Al-Quran dan memberikan nasihat kepada orang-orang untuk selalu beriman kepada
Allah.
Perjalanan
intelektualnya dimulai ketika usianya mencapai enam tahun. Dia langsung masuk
kelas satu I’dadi [kelas persiapan] di Ma’had Ustman Mahir. Dia tidak
masuk usia tingkat dasar karena sudah hafal Al-Qur’an. Seperti biasanya,
sebagian keluarganya ada yang mengusulkan untuk memasukannya di lembaga
keterampilan khusus orang –orang difabel untuk belajar permadani. Ada
juga yang mengusulkan akan membiarkannya di rumah. Bahkan, ada yang mengusulkan
agar dia dibiarkan sampai mati, karena tidak ada gunanya dia hidup. Kematian
adalah jalan utama bagi orang buta dan lumpuh.
Akan tetapi, dia
tetap meneruskan sekolah dan membantu orang tuanya. Pemuda ini lulus dengan
hasil yang luar biasa. Kemudian dia meneruskan ke Ma’had Al-Qohirah
Ats-Tsanawi [SMA Kairo]. Di sekolah ini, dia membutuhkan waktu empat tahun.
Ketika pergi ke sekolah, dia harus merangkak di atas tanah, baik pada musin
kemarau ataupun penghujan. Ketika hujan turun, dia harus merangkak dengan belepotan
lumur.Pemuda yang gigih ini biasanya melakukan dengan dua cara:
Cara pertama:
ada seorang yang mengangkatnya dari tanah pada saat musim penghujan dan
membawanya walaupun tangannya sudah belepotan dengan lumpur. Kemudian orang
tersebut menyerahkannya kepada kernet ataupun sopir agar memerhatikannya.
Cara Kedua: Hal ini terjadi ketika dia keluar dari
Al-Azhar. Ketika itu, dia adalah pelajar sekolah menengah atas di sana. Ketika
itu, banyak kawannya ada di sekililingnya, tiba-tiba ada seorang pelajar putri
yang membantunya dengan mencegatkan taksi. Pada hari berikutnya, pelajar putri tersebut menunggunya untuk bisa
memberikan bantuan apa yang diperlukan Zaki Usman. Gadis ini banyak bertanya
tentang diri Usman yang membuatnya sangat kasihan. Dia menawarkan mengajarinya
membaca dengan cara Braile atau dia yang akan membacakannya dan membantunya.
Akan tetapi, Usman tidak mau menjadi beban orang lain.
Di sekolah
menengah atas, dia tidak lulus. Ini adalah pukulan berat baginya. Dia
menerimanya dengan tersenyum. Sebenarnya dia lulus, tetapi tersandung oleh
kondisinya yang difabel. Setelah lulus, dia melanjutkan ke Fakultas
Bahasa dan terjemah. Akan tetapi setelah berfikir orientasinya berubah.
Kemudian dia meneruskan ke Fakultas
Ushuludin.
Dia kemudian
lulus dengan mendapatkan dua gelar Lc (Licence) sekaligus dari fakultas
Ushuludin. Bayangkan! Mendapatkan Lc dan kebudayaan Islam tahun
1979 dalam bidang tafsir pada tahun 1983. Kemudian dia bekerja
di kementrian wakaf selama tujuh tahun
yaitu dari tahun 1980 sampai dengan tahun 1987.
Tidak hanya itu,
dia berhasil mendapatkan gelar magister tahun 1986 dengan nilai sangat
memuaskan. Judul tesisnya adalah Manhaj al-Islam fi at-Tanmiyah
al-Iqtishadiyyah [Manhaj Islam dalam Pengembangan Ekonomi]. Setelah itu,
dia bekerja sebagai asisten dosen di Fakultas Dakwah. Dia kemudian melanjutkan
program doctoral [S-3] dan menyelesaikannya pada tahun 1995 dengan disertasi Ad-Da’wah
al-Islamiyyah fi al-Qur’an as-Sadisal hijri
[Dakwah Islam pada Abad keenam Hijriyah] dengan nilai sangat memuaskan [cumlaude].
Di samping
sebagai pembicara di acara-acara radio, karier akademinya juga meningkat. Dia
pernah menjabat sebagai ketua Jurusan Kebudayaan dan tafsir. Ada sekitar dua
puluh empat judul buku, di antaranya:
1.
Manhaj al Islam fi
Tahqiq al-Amn [Metode Islam dalam Mewujudkan Perdamaian]
2.
Asbab al-Irhab wa
Madlahir Ilajih [ Sebab-sebab terorisme dan Solusinya]
3.
Dzawa al-Ihtiyajat
al-Khashah wa Mauqif al-Islamminhum [Orang-orang yang mempunyai kebutuhan
khusus dan sikap Islam kepada mereka]
Dr Zaki Usman
juga berkeluarga . Kehidupan keluarganya juga sangat bahagia. Istrinya selalu
membantunya dan selalu menemaninya dalam mengarungi bahtera kehidupan. Cinta
keduanya mengalahkan cinta rata-rata orang biasa. Sebab , cinta mereka
didasarkan atas cinta karena Allah STW dan persahabatan yang kuat.
Seorang anak
yang buta dan lumpuh mampu membangkitkan kekuatannya. Dia mampu menciptakan
masa depannya sendiri. Dia selalu berkata kepada orang lain, “ Tinggalkan
kekacauan pikiran Anda. Mulailah kehidupan Anda sekarang juga. Jika anda
benar-benar hidup, maka perbaharuilah
terus hidup Anda. Jika sedih, maka ingatlah Allah selalu bersama Anda.
Teruslah melangkah maju dengan tekat dan kemauan yang kuat.”
Sumber: 12
Formula Dahsyat Merancang Masa Depan Hebat, DR Ibrahim Elfiki.2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar