Total Tayangan Halaman

Rabu, 22 Mei 2013

TEMANKU MATI TERBAKAR




Abu Abdillah berkata, “Aku tak tau, bagaimana harus menuturkan kisah ini padamu. Kisah yang pernah ku alami sendiri beberapa tahun yang lalu,sehingga merubah total hidupku. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di hadapanku Allah, demi peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan demi pelajaran bagi para gadis yang mengejar bayangan semu, yang di sebut cinta, maka kuungkapkan kisah ini.
Ketika itu kami tiga sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh tidak kami berempat. Satunya lagi adalah setan.
Kami pergi berburu gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan kata-kata manis, hingga mereka takluk, lalu kami bawa ke sebuah taman terpencil. Di sana kami berubah jadi serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan permohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah mati.
Begitulah hari-hari kami di taman, di tenda, atau dalam mobil yang diparkir di pinggir pantai. Sampai suatu hari, yang tak mungkin pernah  saya bisa  melupakannya. Seperti biasa kami pergi ke taman. Seperti biasa pula, masing-masing kami menyantap satu mangsa gadis, di temani minuman laknat. Satu hal kami lupa saat itu, makanan.
Segera salah seorang diantara kami bergegas menbeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia berangkat, jam menunjukan jam enam sore. Beberapa jam berlalu, tapi teman kami itu belum kembali. Pukul sepuluh malam, hatiku mulai tidak enak dan gusar. Maka aku membawa mobil untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di kejauha aku melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat.
Astaghfirullah, aku hampir tak percaya dengan yang ku lihat. Ternyata api itu bersumber dari mobil temanku yang terbakar. Aku panik seperti orang gila. Aku segera mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri manakala melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api. Kubopong tubuhnya lalu kuletakkan di tanah.
Sejenak kemudian ia berusaha membuka kedua belah matanya, ia berbisik lirih, “Api…., Api…!”
Aku memutuskan untuk segera membawa ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur tangis, ia mencegah,”Taka da gunanya… aku tak akan sampai…!”
Air mataku tumpah aku akan menyaksikan temanku meninggal di hadapanku. Di tengah kepanikanku , tiba-tiba ia berteriak lemah, “Apa yang mesti ku katakana padaNya? Apa yang mesti ku katakana padaNya? “
Aku memandanginya penuh keheranan. “Siapa?” Tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari dasar sumur yang amat dalam, dia menjawab “Allah!”
Aku merinding ketakutan. Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba-tiba temanku itu menjerit, gemanya menyelusup ke setiap relung malam yang gulita, lalu ku dengar tarikan nafasnya yang terakhir.
Setelah itu hari-hari berlalu seperti sediakala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit kesakitannya, api yang membakarnya dan lolongannya “Apa yang mesti ku katakana padaNya? Apa yang mesti ku katakana padaNya? “ Seakan terus membuntutiku setiap gerak dan diamku.
Pada diriku sendiri aku bertanya, “Aku,… Apa yang mesti ku katakana padaNya? “  Air mataku menetes, lalu sebuah getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah sayup-sayup aku mendengar adzan shubuh menggema,
“Allahu Akbar, Allahu Akbar,…
Aku merasa bahwa adzan itu hanya ditujukan padaku, mengajaku menyingkap fase kehidupanku yang kelam, mengajakku pada jalan cahaya dan hidayah.
Aku segera bangkit, mandi dan wudhu, menyucikan tubuhku dari noda-noda kehinaan yang menenggelamkanku selama bertahun-tahun.
Sejak saat itu aku tak pernah meninggalkan shalat. Aku memuji Allah, yang tiada layak di puji selain Dia. Aku telah menjadi manusia lain. Maha suci Allah yang telah mengubah berbagai keadaan. Dengan seijin Allah aku telah menunaikan umrah. Insya Allah aku akan melaksanakn haji dalam waktu dekat, siapa yang tau?
Umur ada di tangan Allah SWT.


Sumber: Saudariku apa yang menghalangimu untuk berhijab? Syaikh abdul hamid al-bilaly.1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar