Total Tayangan Halaman

Jumat, 17 Mei 2013

PERJALANAN YANG JAUH






Nurah, saudara perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa ia masih membaca al-Qu’ranul Karim.
Jika ingin menemuinya, pergilah ke mushalanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku, sujud dan menengadahkan tangannya ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di tengah malam hari, ia tidak pernah jenuh.
Berbeda dengannya, aku selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita dan hampir tidak pernah beranjak dari video. Bahkan aku sudah identik dengan benda yang satu ini. Banyak kewajiban yang tak kuselesaikan, bahkan aku sudah meninggalkan shalat.
Setelah tiga jam berturut-turut ku nonton video di tengah malam, aku di kagetkan oleh suara adzan yang berkumandang di masjid dekat rumahku.Aku pun segera kembali ke tempat tidurku. Naurah pun memanggilku dari mushalanya.
“Ada apa Naurah?” Tanyaku.
“Jangan tidur sebelum shalat shubuh!” Ia mengingatkan. “Ah… Shubuh kan masih satu jam lagi, barusan kan adzan pertama.”
Begitulah ia selalu penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhirnya ia terbaring sakit. Ia tergeletak lemah di di tempat tidur.
“Hanah!” Panggilannya suatu  ketika.Aku tak mampu menolaknya panggilannya begitu jujur dan polos.
“Ada apa saudariku?” Tanyaku pelan.
“Dududklah! ”Aku menurut dan duduk di sisinya. Hening…. Sejenak kemudian ia melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suaranya yang merdu.
“Tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu.” (Ali Imran: 185)
Diam sebentar, lalu ia bertanya. “Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?”
“Tentu saja percaya!”
“Apakah kamu tidak percaya amalmu akan dihisab, baik yang besar ataupun yang kecil?”
“Percaya, tapi bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda, umurku masih panjang!”
“Saudariku, apakah kamu tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si fulanah….
Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian seseorang”
Aku menjawabnya dengan penuh ketakutan. Suasana mushalanya yang gelap dan mencekam, semakin menambah rasa takutku.
“Aku takut dengan gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku dengan kematian? Di mana aku tidur nanti?” Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak. Kucoba menenangkan diri. Aku berusaha tegar dengan mengalihkana pembicaraan pada tema yang menyenangkan, rekreasi.
“Oh ya, kukira kau setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?” Pancingku.
“Tidak, karena barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh… mungkin…umur ada di tangan Allah, Hanah.” Aku pun menangis. Suara itu bergeta, Aku ikut hanyut dalm kesedihan.
Sekejap langsung terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para dokter sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian.
Tetapi siapa yang mengabarkan ini semua padanya? Atau ia memang merasa sudah datang waktunya?
“Mengapa termenung? Apa yang kau lamunkan?” Dengan suara yang agak keras.
“Apa kau mengira, hal ini ku katakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku lebih panjang dari umur orang-orang yang sehat. Dan kamu sampai kapan akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau… Lalu apa setelah itu?”
Dalam kegelapan aku genggam tangannya erat.
“Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke syurga atau ke neraka. Apakah engkau belum mendengar ayat.
“Barang siapa dijauhkan dari Neraka dimasukan ke dalam Syurga maka sungguh ia telah beruntung.” (Ali-Imran: 185).
“Sampai besok pagi.” Ia menutup nasihatnya. Aku bergegas meninggalkannya ke kamar. Nasihatnya masih terngiang-ngiang di gendang telingaku, “Semoga Allah memberimu petunjuk, jangan lupa shalat!”
Jam delapan pagi….
Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar. ”Pada jam ini  biasanya aku belum bangun,” Pikirku. Tetapi di luar terdengar suara gaduh, orang banyak terisak.
“Ya Rabbi, apa yang terjadi?”
“Mungkin Nurah….?” Firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya ke rumah sakit.
Tidak ada rekreasi tahun ini. Kami semua harus menunggui Naurah di rumah sakit. Lama sekali menunggu kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.tepat puul satu siang , ayah menerpon dari rumah sakit. “Kalian bisa menjenguknya sekarang! Cepatlah datang!”
Kata ibu , tampak sekali ayah begitu panic, nada suaranya berbeda dari biasanya.
“Mana sopir….?” Kami semua terburu-buru. Kami menyuruh sopir menjalankan mobil dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya dalam perjalanan liburan, kini terasa amat panjang, panjang dan lama sekali. Jalanan macet yang biasanya kunanti-nantikan sehigga aku bisa nengok kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku ibu berdoa untuk keselamatan Nurah.”Dia anak sholihah dan taat. Ia tidak pernah menyia-nyiakan waktunya. “ia rajin beribadah,” ibu berguman sendirian.
Kami turun di depan pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak lunglai. Di sana sini terdengar suara rintihan. Ada yang baru masuk karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras. Tidak di ketahui apakah mereka akan hidup ataukah mati. Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.
Kami naik tangga menuju lantai atas, seorang perawat berkata, “Ia berada di ruangan perawatan intensif. Saya akan mengantarkan kalian ke sana.” Perawat itu menyampaikan bahwa kondisinya baik-baik saja. Ibu pun merasa agak  tenang, setelah berhasil melewati masa kritis yang terjadi padanya. Di depan pintu terpampang papan peringatan: “Tidak boleh masuk lebih dari satu orang!”
Di tengah kerumanan para dokter yang merawat, dari sebuah jendela kecil yang ada di pintu, aku melihat kedua mata Naurah sedang memandangiku sementara ibu berdiri di sampingnya. Dua menit kemudian ibu keluar dari ruang perawatan intensif dengan tak kuat menahan air matanya.
Kini tiba giliranku masuk, Dokter memperingatkan agar aku tidak terlalu banyak mengajaknya bicara. Aku diberi waktu dua menit.
“Bagaimana keadaanmu Nurah? Tadi malam engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi denganmu?” Aku menghujaninya dengan pertanyaan.
“Alhamdulillah aku baik-baik saja,” jawabnya dengan berusaha tersenyum. “tapi, mengapa tanganmu dingin sekali, kenapa?” Aku menyelidik. Aku duduk di pinggir dipan. Lalu ku coba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari jangkauanku.
“Maaf kalo aku mengganggumu!” Aku tertunduk. “Tidak apa-apa. Aku hanya ingat firman Allah SWT.
“Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” (Al-Qiyamah 29-30).
Nurah melantunkan ayat suci Al-Qur’an.
“Hanah berdoa’lah untukku. Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari pertama kehidupanku di akhirat…. Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit sekali.”
Pertahananku runtuh. Air mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya, tidak sadar dimana saat aku berada. Aku terus menerus menangis Ayah mengkhawatirkan keadaanku, sebab mereka tidak pernah melihatku  menangis seperti itu.
Bersama dengan tenggelamnya matahari pada hari itu, Nurah meninggal dunia…. Suasana rumah kami di selimuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga datang melawat. Aku tak bisa membedakan lagi, siapa-siapa yang dating, tidak pula apa yang mereka percakapkan.
Aku tenggelam dengan diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin mencium keningnya.
Kini taka ada yang kuingat selain satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya padaku menjelang kematiannya.
“Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan),” Aku kini benar–benar faham bahwa,” Kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” Aku tidak tahu, ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushalanya.
Terbayang kembali saudara kembarku Nurah yang demikian baik kepadaku, Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dan merasakan kegalauan kusadari yang senantiasa mendoa’kanku agar aku mendapat hidayah Allah, Saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap pertengahan malam, yang selalu menasehatiku  tentang mati, hri perhitungan….
 Ya Allah, malam ini adalah malam pertama bagi Nurah di kuburnya. Ya Allah rahmatilah dia, terangilah kuburnya.
Ya Allah, ini mushaf Nurah, ...ini sajadahnya… dan ini… ini gaun merah muda yang pernah di katakannyapadaku, bakal di jadikan kenangan manis pernikahannya.
Aku menangisi hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus , tak bisa berhenti. Aku berdoa pada Allah semoga  Dia merahmatiku dan menerima taubatku. Aku mendoakan Nurah agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaiman aia sebegitu sering mendoakanku.
Tiba-tiba aku tersentak dengan pikiranku sendiri. “Apa yang terjadi kalo yang meninggal adalah aku? Bagaimana kesudahanku?”
Aku tak berani mencari jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi.
Allahu Akbar, Allahu akbar…
Adzan fajar berkumandang. Tetapi, aduhai alangkah merdunya suara panggilan itu kali ini. Aku merasakan kedamaian dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera ku hamparkan sajadah, selanjutnya aku shalat shubuh. Aku shalat seperti orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pernah kusaksikan terkhir kali sari saudari kembarku Naurah.
Jika tiba waktu pagi, aku tak menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu sore. Ku manfaatkan sebaik mungkin, waktuku sangat berharga.


Sumber:  Saudariku apa yang menghalangiku untuk berhijab?Syaikh Abdul Hamid al-bilaly 1998

Tidak ada komentar:

Posting Komentar